, , , ,

Ranu, Isyaratmu Sempat Menguji Hatiku

Hai Ranu,

Apa kabarmu? cerita tentangmu ternyata harus tertunda beberapa saat. Kisahmu dan kisahku yang hanya sejenak ini terukir cukup dalam di hatiku.

Ingatkah kamu, Ranu? Saat aku memulai perbincangan dengan Indra. Dia mengajak aku untuk mengunjungimu. Kau adalah impianku. Impian yang sedari kecil hanya kulihat melalui buku, novel, film. Tapi tidak kali ini. Aku mendatangi kamu.

Indra, iya, dia mengajakku saat itu. Untuk menemani teman kita. Ugh! Kamu tau Ran, meski aku sudah mengikis ketakutanku terhadap pendakian. Tapi diajak oleh orang – orang yang belum tahu pendakian di masa lalu ku itu rasanya…. MENAKUTKAN! Sungguh! aku berkali – kali mengajak mereka (yang pernah mendampingiku) untuk menemani bahkan sampai beberapa hari sebelum keberangkatan. Namun, tak ada satupun yang bisa. Ada sih, satu, tapi tiba – tiba membatalkan keikutsertaannya saat mendekati keberangkatan.

Aku ketakutan.

Entahlah untuk kamu Ran, enggak ada secuil pikiran berhenti atau menunda perjalanan ini. Aku pun bersiap meminjam perlengkapan & meminta bantuan kepada teman – temanku sebelum keberangkatan. NEKAD? ya, itu yang dikatakan teman – teman pendaki yang baru ku kenal di kereta dalam perjalanan menuju Malang. Aku sendiri dari Jakarta menuju Malang.

Namun, setelah hatiku merasa siap 70 % ternyata berkali – kali kamu mengikis niatku untuk mengunjungimu. Kenapa Ran? Tidak boleh kah? Aku akan mengungkitnya! Karena aku marah! (Tidak apa – apa ya, Ranu)

Satu, beberapa hari sebelumnya 2 orang yang akan mendampingi aku batal. Satu orang dengan konfirmasi dan yang satunya tanpa konformasi. Dari kami yang berencana 7 orang tersisa 3. Aku, Indra, Kiki. Oh Tuhan, Ranu.. Kenapa? Niatku  berkurang. Aku takut.

Kedua, bahkan saat aku berangkat menuju Malang. Kami pun harus menunda keberangkatan karena pekerjaan Indra. Sempat hampir terluntang lantung di Malang, Kiki berbaik hati menawarkan tempat menginap di rumah temannya. Ah, aku bisa sempat istirahat sejenak.

Ketiga, lagi – lagi Ranu kamu mengujiku saat menuju Pasar Tumpang. Kenapa seakan aku tidak boleh mendatangimu? Tiba – tiba saja saat kami datang di pagi hari sudah tidak ada angkutan menuju Ranupane. Kenapa aku harus kembali berada di Malang 1 hari lagi? Aku bosaan! Lagi – lagi aku akan menginap di rumah singgah backpacker yang ada di Malang.

Pertanyaan demi pertanyaan muncul dibenak kepalaku. Kenapa? Kamu tau, Ranu? Kamu menguji begitu keras tapi banyak kebaikan yang aku terima dari sekitarku. Inginku mengunjungimu pun kembali menguat.

Tiba – tiba aku teringat saat di rumah singgah. “Dia” yang kata mereka tidak terlihat datang menghampiriku. Saat aku berada di rumah teman baruku, “Dia” menghampiriku, menyentuh dan membelai pipiku sambil menitipkan pesan untuk hati – hati selama perjalanan. Degh! Jantungku berdetak kencang saat teman – teman di Jakarta meminta aku membatalkan pendakian.

Puluhan misscall tidak terjawab, beberapa pesan di Whatsapp pun tidak terbaca. Teman – teman di Jakarta memintaku membatalkan pendakian ini dan pulang. Rasanya itu Ranu.. aku sedih, shock, sempat gemetar dan pikiranku kalut. Aku sempat enggan menjawab panggilan telp. dari temanku, mencoba membuat mental dan mood aku tetap dalam kondisi bagus sebelum pendakian. Yang dalam pikiranku bahkan teman-temanku tidak mengizinkan mendaki.

Indra bertanya, “lo udah izin ibu belum kalau mau mendaki ke Semeru?”.

Gw berkata, “udah bilang ke ibu dan tante” . 

“Mereka mengizinkan?,” lanjut Indra.

“Iya..,” jawabku.

Indra melanjutkan, “yang terpenting itu izin dari ibu bukan dari teman – teman. Kalau ibu udah mengizinkan, insyallah perjalanan akan lancar.” Yap, hati aku kembali tenang dan malam itu aku terlelap cukup nyenyak & menyiapkan tenaga untuk pendakian esok hari.

Hari – hari yang ditunggu – tunggu pun tiba. Sekitar jam 6 pagi, aku menuju Ranupane. Hey, Ranu kau gagal mengujiku.

“Nanda, semangat! Semesta mendukung pendakian kita!,” kata kiki yang menyemangatiku.

Dengan nafas tersengal – sengal aku menatap sekitarku. Ah, iya semesta mendukungku. Alam mengijinkan pendakianku ini. Tak terbayangkan saat aku mendengarkan cerita pendaki lain yang turun tadi malam. Apa jadinya jika aku memaksa naik saat itu?

 

“Hujan deras ka. Badai.. baju & tenda kami basah semua,” cerita salah seorang pendaki.

“Jalannya longsor kak. Kita aja jalan pegangan tali dan itu licin banget! Kepleset dikit masuk jurang kak!,” cerita pendaki yang lain.


“Aduh, kenapa aku ga nurut apa kata teman2ku saja ya!” Batinku mulai menyesali pendakian ini. Memaksa untuk naik dan tidak bersama mereka yang pernah menemaniku.

“Udah, tenang aja. Emang begitu jalurnya. Gak separah yang mereka ceritain,” – indra & kiki menenangkan hati aku saat itu.

Kembali aku menarik nafas dan.. aah, kenapa sih aku harus mulai menyukai pendakian?! Nda, kamu itu sering berhenti untuk tarik nafas, gak kuat ndaki. Mendaki itu merepotkan, dingin, capek, melelahkan. Lebih enak ke laut!

Berkali – kali aku menggerutu dalam hati menyesali keputusan nekad mengunjungi kamu, Ran. Bengal ya aku? Tapi demi kamu, Ran.

Perjalananku lancar sekali. Cuaca cerah meski kabut terus menutup mataku saat aku tak lelahnya mencari-cari kamu. Mencari keindahan yang mereka katakan bisa ku jumpai saat mendatangimu.

4 Jam. Itu waktu yang kubutuhkan. Setelah nafasku hampir habis, tenagaku hampir hilang, berpuluh – puluh kali aku mencoba berhenti dan menyerah di tengah jalan karena kehabisan nafas di tiap tanjakan yang akh! Kau tau? Kau menyulitkan aku dengan tanjakan – tanjakan itu. Kau paling tahu aku tak pernah bisa cepat dan kuat dengan tanjakan.

Yah, 4 jam. Akhirnya aku tiba dihadapanmu, Ran. Rindukah kamu padaku? Aku terdiam sejenak, duduk dan melepaskan lelahku. Tak lama, aku berdiri dan menghampirimu.

Dan kemudian untuk selanjutnya kamu membuat aku tersihir,Ran. Apa yang bisa aku lakukan hanyalah diam, menikmati keindahanmu, kecantikanmu diantara sejuta manusia disini yang diciptakan Allah SWT. Alhamdullilah.. Terimakasih, Ranu kamu mengizinkanku. 

 

Hai, Ranu. Apa kabar..? 🙂 

Ranu Kumbolo merupakan sebuah danau air tawar yang berada dalam naungan pemerintah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur yang terletak di Pegunungan Tengger, di kaki Gunung Semeru. Danau ini mempunyai luas area sekitar 15 hektar

 

4 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *