, , , ,

Gunung Papandayan, You Never Walk Alone

When you walk through a storm
Hold your head up high
And don’t be afraid of the dark
At the end of the storm
There’s a golden sky
And the sweet silver song of a lark

Walk on through the wind
Walk on through the rain
Though your dreams be tossed and blown

Walk on walk on with hope in your heart
And you’ll never walk alone
You’ll never walk alone

When you walk through a storm
Hold your head up high
And don’t be afraid of the dark
At the end of the storm
Is a golden sky
And the sweet silver song of the lark

Walk on through the wind
Walk on through the rain
Though your dreams be tossed and blown

Walk on walk on with hope in your heart
And you’ll never walk alone
You’ll never walk

You’ll never walk
You’ll never walk alone

Hahahaha, lirik You Never Walk Alone – Liverpool jadi backsound dalam catatan perjalanan saya kali ini. Kenapa?? Karena ini kali keduanya saya mencoba mendaki gunung setelah pada bulan Januari 2015 saya ke Baduy Dalam. Perjalanan ini menguji mental saya, menguji apakah saya bisa menghilangkan trauma setelah kemarin sempat drop. Berkali – kali saya meyakinkan diri, bertanya kepada teman – teman apakah saya mampu mendaki gunung?? Dan mereka menjawab, SANGGUP!

Ok, setelah 2 bulan meyakinkan diri akhirnya saya pun mencobanya. Dengan didampingi oleh Kak Kiki (yang berjanji tidak meninggalkan saya saat mendaki, iloveyoupullkak) akhirnya perjalanan saya ke Gunung Papandayan pun dilakukan. Kali ini saya pergi bersama teman – teman Wanderlust (11-13 Desember 2015). Saya (jujur saja) mencoba untuk percaya dengan mereka yang tidak akan meninggalkan saya disaat mendaki.

Letaknya dekat dengan Jakarta, tepatnya di Kabupaten Garut, Gunung Papandayan memiliki medan yang tidak begitu berat bagi pendaki pemula seperti saya. Kontur tanahnya cukup landai dengan jalur pendakian yang yaa bisa dibilang aman dengan ketinggian 2665 mdpl. Gunung Papandayan memiliki beberapa kawah yang terkenal. Di antaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya. 

11 Desember 2015, saya dan teman – teman Wanderlust berkumpul di Mabes Korlantas Polri jam 10 malam. Usai berkumpul semua kami pun berangkat. Perjalanan berlangsung sangat sunyi… karena semua tertidur. Hahaha. 😀 Setelah tiba keesokan harinya, Di Simpang Cisurupan sudah tersedia pickup yang siap mengantarkan para pendaki sampai ke alun-alun Papandayan. Tadinya, kami akan menggunakan bis yang kami sewa sebelumnya namun ternyata kami harus menggunakan mobil pick up. Usai tawar menawar dengan pemilik pick up, sarapan dan ganti baju kami pun melaju menuju  Pos Pendakian Papandayan.

Perjalanan yang menyenangkan, meski jalanan menuju Pos Pendakian sudah cukup baik namun ada beberapa jalan yang rusak. Pemandangan gunung Cikurai yang memukau sepanjang perjalanan dan pepohonan tinggi besar di samping menyegarkan mataku yang rindu akan alam. Akhirnya kami pun tiba di Pos Pendakian Papandayan Camp. David.  Berdoa sebelum melakukan pendakian adalah satu hal yang wajib dilakukan agar perjalanan kami berlangsung dengan lancar.

Soo.. Here we go! Kami mulai mendaki. Diawali dengan kawah putih yang begitu besar dan mengepulkan asap dengan bau yang kurang sedap. Sebelumnya saya sudah diingatkan untuk membawa masker atau buff untuk menahan baunya. Selama perjalanan, kami tak lupa untuk berfoto – foto. Seharusnya setelah melalui kawah, kami berbelok ke kanan menuju pos 2 namun leader memutuskan untuk melalui jalur yang lainnya yaitu dengan berbelok ke kiri.

Jalur lain ini sebenarnya agak terjal dan menanjak. Tetapi memotong jalan cukup cepat. Seharusnya kami tiba di Pondok Salada terlebih dahulu, namun di jalur ini, Hutan Mati menjadi tujuan pertama kami.  Tiba di Hutan Mati, saya melepaskan tas saya dan mengambil nafas cukup lama sambil menikmati udara dingin dan sejuk ini. Cukup lama kami berada di Hutan Mati, foto dari segala angle dan bercanda dengan teman – teman.

Puas berfoto di Hutan Mati, kami pun lanjut menuju Pondok Salada untuk bangun tenda. Tapi ternyata disana, sudah cukup banyak tenda yang didirikan. Kami pun pindah ke sisi yang lebih tinggi. Usai mendirikan tenda kami pun masak dan bercanda ria. Hujan turun cukup deras membuat kami harus membuat saluran agar air tidak membanjiri tenda.

Dan hujan pun menemani saya menghabiskan malam itu…

Subuh telah tiba, mentari seakan malu menampakan dirinya. Saya kehilangan sunrise yang dikatakan mereka begitu indah. Tapi tak mengapa, diputuskan kami akan melanjutkan menuju Surganya Bunga Eidelweis di Tegal Alun.  Bisa dikatakan, menuju Tegal Alun ini kami kembali nyasar dan tidak melalui jalur seharusnya. Kami tidak melalui jalur yang ada tanjakan curamnya atau yang dikenal dengan sebutan Tanjakan Mamang. Tapi kami, memanjat tebing! Yak, tebing. Oh gosh.. Entah apa yang ada dipikiran saya saat itu. Bisa – bisanya saya manjat tebing tanpa pengaman apapun, bahkan untuk melihat kebawah pun saya tak mampu (takuut boookk.. -_-). Manjat.. manjat.. manjat.. aaakkhirnyaaa saya tiba! Tiba di salah 1 tanah datar untuk sekedar istirahat.

Oh, ok. Saya (masih)  belum tiba di Tegal Alun. Akhirnya saya pun beristirahat. Lelah, kedinginan, lapar semua jadi 1. Tapi, pemandangan menakjubkan terpampang dihadapanku. Ku asik melihat dunia dari ketinggian. Begini kah rasanya melihat semua dari atas?? Terlihat kecil orang – orang yang ada di Pondok Salada itu. Mengingatkan pada betapa kecilnya saya dihadapan Allah. Tetiba terlintas untuk bersyukur atas seluruh hidupku.

Tersadar  bahwa saya terlalu lama istirahat, saya pun melanjutkan perjalanan ke Tegal Alun. Kira – kira 10 menit jalan kaki… Finally, saya tibaaa! Humph! Segera saja saya menghempaskan badan duduk di bawah. Nikmat. Iya, nikmat rasanya melihat hamparan bunga abadi, menghirup udara bersih pegunungan.  Ah, rasa – rasanya jika teman jalanku adalah selalu mereka, aku rasa aku mampu mendaki gunung. Kembali ke realita, saya dan teman – teman pun turun ke tempat camping di sekitar Pondok Salada dengan melalui jalur yang benar. Tiba di Pondok Salada, kami pun makan siang dan bersiap – siap untuk turun ke Camp. David.

Perjalanan kami menuju Camp. David ditemani oleh hujan yang sangat deras. Pikiranku kembali mengulang ingatan saat berpetualang ke Baduy Dalam dalam keadaan hujan. Haruskah?? Iya, harus! Kalau tidak maka saya tidak akan tiba di Camp. David. Hiks. Akhirnya perlahan tapi pasti saya melalui derasnya arus air dari atas, menyebrangi dan melalui bebatuan kapur itu (Big Thank for Kak Ki & Kak Aldo 😀 ) . Hujan – hujanan kali ini saya lebih siap! Menyiapkan perlengkapan yang menempel di badan dengan lengkap dan untungnya bukan tanah liat yang saya lalui. Sore hari, kami pun tiba di Camp. David, beres – beres dan … Alhamdullilah, kami semua turun dan pulang kepada keluarga dengan keadaan sehat walafiat tanpa kekurangan apapun.

Perjalanan kali ini menyisakan satu pelajaran, Bukan seberapa kuat dan cepat kau mencapai bukit tertinggi tapi dengan siapa kalian menikmati perjalanan hingga mencapai bukit tertinggi  itu.

Traveling is a brutality. It forces you to trust strangers and to lose sight of all that familiar comfort of home and friends.

9 replies
  1. roellah@gmail.com'
    Nasirullah Sitam says:

    Di banyak tulisan tentang Gunung Papandayan, yang paling menarik bagiku itu Hutan Mati. Seperti sedang tidak di Indonesia menurutku.

    *Oya lirik lagi YNWA itu keren hahahha. Hampir tiap pekan aku nyanyikan kala nonton Liverpool 😀

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *