,

Goa Kelelawar, Tempatnya Kelelawar Berkeliaran

Hai! I’m back. 😀

melanjutkan dari cerita ke Pulau Sangiang, Banten, usai renang – renang cantik, kita pun bersiap untuk treking menuju Goa Kelelawar . Sebelum berangkat kita ga siapin apa – apa kecuali air mineral. Bakal haus banget dan perjalanannya cukup jauh. Pasukan pun di cek satu persatu. Siap semua? Let’s gooo!

Untuk bisa sampai dan melihat langsung Gua Kelelawar membutuhkan tenaga ekstra dan mental yang kuat. Perjalanan untuk sampai ke gua ini dimulai dengan berjalan kaki dari pesisir pantai hingga menaiki bukit. Perjalanan memakan waktu kurang lebih sekitar 1 jam.

Treking pun dimulai. Ditemani oleh pemandangan ilalang dan pohon kelapa selama perjalanan membuat kami menikmati perjalanan ini. Ternyata cukup jauh untuk menuju Goa Kelelawar. Bahkan kita pun harus masuk ke hutan – hutan, naik turun selama perjalanan, manjat beberapa pijakan yang cukup tinggi.

Melewati beberapa tanah becek yang ditumbuhi tunas-tunas pohon kecil, melalui hutan yang penuh pepohonan. Sedikit lembab hingga menjumpai sebuah pohon besar di kiri jalan hingga akhirnya.. Violaaa! kami tiba di turunan menuju ke Gua Kelelawar.

Begitu sampai di Gua Kelelawar, pemandangan pertama yang kita lihat adalah mulut gua yang cukup besar kira – kira berdiameter 50 meter. Sesuai namanya, gua ini dihuni oleh ratusan kelelawar atau bahkan bisa mencapai ribuan. Pada bagian ujung gua terlihat lubang sebagai tempat masuknya air. Wajar saja jika permukaan gua terendam oleh air laut. Kata guide kita, jika permukaan gua ini terendam biasanya ada ikan hiu datang untuk menunggu kelelawar yang jatuh untuk menjadi santapan. Tapi sayang hal itu langka banget.

Motret udah.. ketawa ketiwi udah.. ngeliatin kelelawar udah.. kita pun memutuskan kembali ke tenda. Eits.. tapi kita mampir dulu ke Pantai Pasir Panjang. Untuk menuju ke sini kita mampir dulu di salah 1 tempat (lebih tepatnya tebing sih) untuk sekedar melihat sisi lain Pulau Sangiang. Beberapa teman memutuskan untuk turun tebing menggunakan tali dan tangga yang sudah disediakan lalu melanjutkan perjalanan menuju Pantai Pasir Panjang.

usai menjelajah hingga Pantai Pasir Panjang, kami pun bergegas kembali ke tenda. Langit mulai gelap, kami pun menyalakan senter yang telah kami siapkan sebelumnya.

Well, memang awalnya kekecewaanku pada sampah – sampah yang ada di Pulau Sangiang membuat mood ku drop. Tapi sekarang ini pertanyaannya buat kamu, saya dan kita yang merasa mencintai alam Indonesia.. Apa yang bisa kita lakukan dengan begitu banyaknya sampah di alam Indonesia – ya, contohlah pulau Sangiang ini- ? 🙂

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *