, , , , ,

“Dia” Mengikutiku Sepanjang Pendakian di Semeru

Mendaki Gunung Semeru tepatnya menuju Ranu Kumbolo memang bukan hal mudah buat aku si pendaki amatiran. Awalnya aku pikir pendakian ini akan menyenangkan tapi ternyata beberapa kali aku harus menemukan hal yang mengerikan disana. Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa menjadi favorit bagi para pendaki. Dan seperti yang aku khawatirkan sebelumnya ini memang tidak mudah. Perjalanan berawal ketika aku merasa pendakian ini tidak mendapat restuNya. Dimulai dari peserta yang tersisa 3 dari 7 orang hingga perjalanan yang diundur 1 hari.

 

Lalu, “Dia” hadir dan bertatap mata denganku saat pertama kali aku menginjakan kaki di Malang. Tiba di Malang aku menginap di rumah Sita; salah satu teman baruku. Begitu tiba disana langsung aku menaruh kerilku dan duduk menyenderkan badanku, berkenalan dengan Sita dan Oyip yang merupakan temanku Rizky. Saat itu, Sita sedang menunggu teman – temannya datang kerumahnya untuk gathering Hammockers Jawa Timur. Usai teman – temannya datang dan mengobrol sebentar mereka pun pamit untuk pergi ke lokasi gathering.

 

Saat itulah, “Dia” datang menghampiriku. Saat aku sedang asyik rebahan dan menonton TV. Seorang wanita masuk dari pintu depan lalu menghampiriku di ruang tengah. Seorang wanita cantik, bertubuh proposional dengan panjang rambut sebahu. Dia datang menghampiriku..

 

“Hai Nanda. Lagi apa?,” sapanya kepadaku.

 

Degh! “Siapa dia? Rasa – rasanya semua teman sudah pergi. Ah, mungkin ini temannya yang lain”, batinku.

 

“Lagi istirahat aja besok mau naik ke Semeru,” jawabku.

 

Sambil memegang pipiku dan dielusnya, “Dia” berkata, “Kamu, selama perjalanan menuju Ranu Kumbolo hati – hati ya jangan sampai lupa berdoa.”

 

Ah! “Ini siapa yang pegang pipiku?,” ucapku dalam hati. “Iya kak.. Terima kasih,” jawabku.

 

“Baiklah aku pergi dulu ya. Jangan lupa doa selalu,” Lalu dia pun berjalan menuju pintu depan dan menghilang tiba – tiba dari pandanganku.  Shit! Aku mengumpat dalam hati. Itu manusia, bukan ?? Pasti manusia ! Tapi kemana dia menghilang ? Itu bukan manusia ?? Ah, gila itu apa?? Serius dia menghilang? Aku sendirian di rumah ini! Kiki kemana?? Lama sekali aku mencoba menenangkan diri hingga tanpa sadar aku tertidur depan TV.

 

Esok paginya kami bersiap menuju Pasar Tumpang. Dan ternyata, kami masih harus menunggu 1 hari lagi. Aku teringat pada pesan “Dia” ditambah dengan beberapa cerita pendaki lain yang baru saja turun bahwa diatas sana badai sedang berlangsung.  Puluhan telfon masuk dari teman – teman di Jakarta. Mereka memintaku untuk menunda pendakian. Ada apa ini ?

*

Awalnya, pendakian baik – baik saja dan berjalan sesuai rencana meski aku tertatih – tatih menuju Ranu Kumbolo. Hingga akhirnya, aku melalui sebuah pohon yang akar dan batangnya membentuk seperti lorong. Degh! Lelaki itu tidak menapakan kakinya. Aku abaikan yang ku lihat dan melanjutkan perjalanan tanpa memberi tahukan temanku, Indra.  Hingga tibalah aku di Ranu Kumbolo.

 

Saat menikmati langit senja menuju malam yang tenang, aku duduk menatap danau sambil mendengarkan teman – teman baruku bercengkrama. Tiba – tiba aku dikejutkan dengan adanya seorang wanita cantik melintasi danau Ranu. Seorang wanita berambut panjang dan cantik dengan cahaya yang menghangatkan hati berjalan melintasi tengah danau Ranu. Lalu menghilang begitu saja.  Belum selesai rasa kagetku, aku memutuskan untuk masuk ke dalam tenda dan tidur.

 

Malam tiba, namun ternyata aku tidak diperbolehkan untuk tidur dengan nyenyak. Aku kedinginan. Bahkan thermal sleeping bag yang aku bawa pun tak mampu menghangatkan tubuhku. Berkali – kali aku merubah posisi tidur menjadi duduk, mengambil apapun yang dapat menghangatkan badanku. Tiba – tiba, saat aku memutuskan untuk kembali tidur lalu wanita itu terlihat melewati tendaku. Bulu kuduk merinding begitu saja. Tuhan, Ini apa? Aku ingin membangunkan Indra dan Kiki yang sedang terlelap tidur namun ku hanya bisa membeku.

 

Pagi harinya, kami bersiap – siap untuk kembali ke Ranu Pane. Indra dan Kiki mempersilahkan aku untuk berjalan terlebih dahulu dan bertemu di Pos 2. Yah, apalagi kalalu memang jalanku yang sangat lama. Lalu aku pun berjalan perlahan sendiri menuju Pos 2. Beruntungnya aku bertemu dengan beberapa pendaki yang menemaniku. Mereka tanpa sungkan mengajak berjalan bersama dan mengobrol, bertanya – tanya tentang diriku dan aktivitasku. Lalu tibalah aku di tempat dimana “pohon itu berada”. Sesaat sebelumnya tiba – tiba kabut cukup tebal datang. Yang bisa kulihat hanyalah diriku. Teman baruku yang tadinya berdampingan denganku berada di depan dan belakangku tidak terlihat.
Lalu.. Drapp.. Drap… Drap… Suara langkah kaki terdengar dibelakangku namun aku tak bisa  melihatnya. Aku berhenti menunggu mereka tapi suara itu pun berhenti. Aku kembali berjalan dan suara langkah kaki itu kembali terdengar. Aku memutuskan untuk mempercepat langkahku. Saat ku tiba di pohon itu, aku melihat beberapa dari “mereka” berdiri di sisi yang dekat dengan tebing. “Mereka” terlihat seperti mempersilahkanku berjalan dan aku pun melaluinya. Aku menengok ke belakang lalu sekilas ku lihat mereka mengikutiku. Aku mempercepat langkah hingga akhirnya tiba di pos 1 dan kabut itu menghilang. Aku tidak membiarkan diriku istirahat dan meneruskan perjalanan dengan langkah yang cukup cepat meski aku tak tahu apakah jalur yang aku pilih ini benar atau tidak.

 

Lalu tibalah aku di bawah. Dari kejauhan aku melihat Indra, dan cukup heran karena dia sudah berada di depanku tanpa tahu bahwa dia menyusul diriku. Lalu aku pun berjalan bersama hingga Ranu Pane. Tiba di pintu masuk Gunung Semeru aku pun berfoto – foto sebelum pulang. Singkat cerita, perjalananku selesai dengan aman.

 

Ranu, aku rindu menghampirimu. 🙂

 

 

 

15 replies
  1. Rossy.hasibuan@gmail.com'
    Oci says:

    Kerenn nan , semoga aku bs menyusul kesana melihat keindahan gunung semeru… Pulang membawa cerita yg indah tentang gunung semeru

    Reply
  2. manappppp@gmail.com'
    Manap Fama says:

    Wah ngeri-ngeri sedap mba haha. Enak ga punya indera ke enam? katanya kalo bisa ngeliat makhluk halus jadi sudah nggak takut lagi. Dan dari cerita di artikel ini juga keliatannya lo santai-santai aja ngeliat ‘mereka’.

    Coba komunikasi sama mereka dong mbak kalo kesana lagi. Soalnya sering banget dengar pendaki yang sama persis cerita nya sama lo mbak.

    Ketemu, kabut, diikutin, tiba-tiba hilang.

    Reply
    • utaminandawati says:

      Dibilang enak mah gimana ya.. enggak sama sekali. Pengennya enggak tau apa – apa. Kadang pengen bisa nikmatin alam tanpa perlu liat yang aneh2 xD. Kalo dibilang santai juga ya mau gimana hahahahahah.. Tapi otak gw lebih dominan, antara gw ngelewatin terus sampe Rakum atau gw pilih balik lagi ke Ranupane dan sebaliknya. Nanti ga nyampe – nyampe kalo dibikin takut anggep aja gw ga bisa liat selama gak tatap2an mah T___T.

      Nah, kalau buat berkomunikasi.. Thank God gw enggak bisaaaaa.. amit2 kalau bisa mah 😐 😐 😐 *getok2 meja*

      Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *